Teater Wasi Putih Poliban Sukses Adakan Pengoembar Tersipoe VI

         Teater Wasi Putih, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) kembali mengadakan Pengumbar (Pentas Pengurus Baru) Tersipu pada Senin (10/10) malam.

         Pengoembar Tersipoe merupakan program kerja wajib Teater Wasi Putih yang sampai saat ini sudah mencapai tahun ke-6 dalam penyelenggaraannya. Pengoembar Tersipoe VI mengangkat tema yang merujuk pada peristiwa yang terjadi pada September hingga Oktober.

         Teater Wasi Putih menampilkan dua pementasan drama dengan disutradarai oleh Muhammad Rasyid yaitu, drama kolektif berjudul Fajar Siddiq dan monolog dengan judul Mayat Terhormat.

         Naskah Fajar Siddiq yang merupakan drama tragedi ini mengisahkan tentang seorang anak Kyai bernama Ahmad yang ingin balas dendam kepada pembunuh Ibunya, namun dia salah mengambil jalan. Banyak korban tak bersalah yang berjatuhan ulah dirinya. Ahmad pun dijatuhi hukuman mati. Di malam hari sebelum dia dihakimi, didapati pro dan kontra dari keluarganya terhadap tragedi Ahmad. Seorang anak Kyai yang seharusnya memiliki kesabaran yang tabah menjadi sorotan, banyak yang menilai hina dan mempertanyakan perbuatan yang dilakukan oleh Ahmad. Perasaan kesal, nestapa, cemas hingga haru tergambar dalam pementasan drama ini.

         Dimainkan oleh lima orang pemain, pementasan drama kolektif Fajar Siddiq menjadi pembuka pementasan Pengoembar Tersipoe VI. Lima orang aktor yang terlibat dalam pementasan ini merupakan pengurus aktif Teater Wasi Putih. Diantaranya Muhammad Iqbal Saputra sebagai Ahmad, Ahmad Kaspi sebagai Marjoso, Muhammad Ridhoni sebagai H. Jamil, Nourma sebagai Zulaecha dan Noor Muhammad Syifa Al-Hilkami sebagai Sersan.

         Sementara itu, pementasan monolog dengan judul Mayat Terhormat yang disutradarai oleh M. Cholis Hayatuddin memiliki alur yang imajinatif. Di latar belakangi pasca peristiwa kerusuhan Mei 1998, Mayat Terhormat mengisahkan seorang penjaga makam bernama Siwi yang merupakan saksi sekaligus pelaku yang dijebak dan dikambing hitamkan oleh orang-orang yang berkuasa atas kejadian tersebut. Siwi yang secara langsung menyaksikan korban-korban kerusuhan dibuang pada makam yang dijaganya menjadikan dirinya dipenjara agar tidak menjadi bom waktu. Mengambil latar tempat penjara tempat Siwi ditahan, cerita dimulai. Siwi mulai berimajinasi dan bernostalgia atas kejadian Mei 1998 tersebut. Siwi dan lain-lain diperankan oleh Zaky Abdillah.

         Dilaksanakan di Gedung Serbaguna (GSG) Poliban, Pengoembar Tersipoe VI dihadiri oleh Mahasiswa/i Poliban. Sebelum maupun sesudah pementasan dimulai, terlihat antusiasme yang tinggi dari apresiator yang datang.

         Sebelumnya, Teater Wasi Putih membuka harga tiket masuk (HTM) pementasan yang dibandrol dengan harga Rp20.000. Dan bagi penonton yang kehabisan tiket HTM, Teater Wasi Putih juga menjual tiket on the spot (OTS) dengan harga Rp25.000.

         “Untuk tiket nonton yang terjual mungkin bisa lebih dari 100. Target penonton kami pastinya menginginkan lebih banyak lagi dari pementasan sebelum-sebelumnya. Untuk promosi kami terkendala media sosial. Jadi karena itu, informasi-informasi kurang terjamah oleh mahasiswa/i Poliban. Tapi, saya liat cukup banyak yang jadi apresiator pada pementasan kali ini,” ucap Ridhoni, Ketua Umum Teater Wasi Putih.

         Untuk pementasan selanjutnya Ridhoni berharap, “Harapan untuk Teater Wasi Putih kedepannya agar lebih baik lagi untuk sebuah pementasan, semoga anak-anak muda selain dari Teater Wasi Putih bisa lebih peka tentang orang-orang yang kami sebutkan di pementasan kali ini, orang-orang yang terhormat mayatnya. Saya harap anak muda berpikir tentang itu, belajar untuk menjadi lebih baik jangan sekedar nyamannya aja karena pengalaman atau sejarah yang sebenarnya mereka belum tau tapi sejarah itu akan berdampak dengan mereka untuk kedepannya. Kami juga berharap ada event lain dari Teater Wasi Putih selain Pengoembar ini.”

         Cholis, sutradara monolog Mayat Terhormat menambahkan, “Setelah pengumbar ini, harapan kedepannya ada pementasan-pementasan berikutnya ataupun kesenian yang lain, agar otak kita tidak berhenti berpikir kreatif. Agar kita masing-masing individu bisa lebih memanusiakan manusia. Setelah lulus dari sini ataupun sekarang pun kita bisa belajar bermasyarakat.”


Penulis: Adelia Elsa Damayanti

Teater Wasi Putih Poliban Sukses Adakan Pengoembar Tersipoe VI Teater Wasi Putih Poliban Sukses Adakan Pengoembar Tersipoe VI Reviewed by LPM Lensa Poliban on Sabtu, Oktober 15, 2022 Rating: 5

1 komentar